
Zebra Cross Tebet yang Hilang Digambar Ulang Warga, Sindiran untuk Pemerintah
Kehilangan fasilitas dasar di ruang publik sering kali menjadi cerminan dari kurangnya perhatian terhadap kebutuhan masyarakat. Hal ini terlihat jelas di kawasan Tebet, Jakarta Selatan, ketika zebra cross yang sebelumnya berfungsi sebagai jalur penyeberangan pejalan kaki tiba-tiba menghilang. Tidak tinggal diam, warga setempat mengambil inisiatif dengan menggambar ulang zebra cross secara mandiri—sebuah aksi yang kemudian menjadi sorotan dan simbol sindiran terhadap pemerintah.
Peristiwa ini bermula ketika marka penyeberangan di salah satu ruas jalan di Tebet memudar hingga nyaris tak terlihat. Kondisi tersebut tentu membahayakan pejalan kaki yang hendak menyeberang, terutama di area dengan lalu lintas yang cukup padat. Tanpa adanya tindakan cepat dari pihak berwenang, warga merasa perlu mengambil langkah konkret demi keselamatan bersama.
Dengan peralatan sederhana seperti cat dan kuas, sejumlah warga secara gotong royong menggambar ulang garis-garis zebra cross di lokasi tersebut. Aksi ini tidak hanya menunjukkan kepedulian sosial, tetapi juga menjadi bentuk kritik yang halus namun tajam. Warga seolah ingin menyampaikan pesan bahwa kebutuhan dasar seperti fasilitas penyeberangan seharusnya menjadi prioritas pemerintah, bukan justru diabaikan.
Fenomena ini pun dengan cepat viral di media sosial. Banyak netizen memberikan apresiasi terhadap inisiatif warga, sekaligus menyayangkan lambannya respons dari pemerintah. Beberapa komentar bahkan menyebut aksi ini sebagai “tamparan” bagi pihak berwenang yang dinilai kurang sigap dalam menangani infrastruktur publik.
Di sisi lain, ada pula yang mengingatkan bahwa tindakan menggambar ulang marka jalan tanpa izin sebenarnya berpotensi melanggar aturan. Namun, dalam konteks ini, banyak pihak menilai bahwa aksi tersebut lebih merupakan bentuk keputusasaan warga akibat minimnya perhatian terhadap keselamatan mereka.
Peristiwa zebra cross Tebet ini menjadi pengingat penting bahwa partisipasi masyarakat dalam menjaga lingkungan sangatlah besar. Namun demikian, tanggung jawab utama tetap berada di tangan pemerintah. Infrastruktur publik yang layak dan aman bukanlah sekadar pelengkap, melainkan hak dasar setiap warga negara.
Ke depan, diharapkan pemerintah dapat lebih responsif terhadap kebutuhan masyarakat, khususnya yang berkaitan dengan keselamatan di jalan raya. Sementara itu, aksi warga Tebet ini akan terus dikenang sebagai simbol kepedulian sekaligus kritik sosial yang kreatif—sebuah pesan kuat bahwa ketika pemerintah abai, rakyat bisa bergerak sendiri.
