
Takbiran Sound Horeg Viral, Bongkar Pagar Jembatan Demi Lewat
Perayaan malam takbiran yang biasanya diwarnai dengan lantunan takbir dan pawai sederhana, kali ini menjadi sorotan publik setelah sebuah rombongan sound horeg viral di media sosial. Kejadian tersebut memicu perdebatan luas lantaran aksi nekat peserta yang membongkar pagar jembatan agar kendaraan mereka bisa melintas.
Dalam video yang beredar, terlihat iring-iringan kendaraan dengan sound system berukuran besar—yang dikenal dengan istilah “sound horeg”—berusaha melewati sebuah jembatan yang memiliki pembatas tinggi. Karena ukuran sound yang melebihi batas, rombongan tersebut memutuskan untuk membongkar bagian pagar jembatan agar tetap bisa melanjutkan perjalanan.
Aksi tersebut sontak menuai reaksi beragam dari masyarakat. Sebagian menganggapnya sebagai bentuk kreativitas dan semangat dalam merayakan malam takbiran, namun tidak sedikit pula yang mengecam tindakan tersebut karena dinilai merusak fasilitas umum dan membahayakan keselamatan.
Fenomena sound horeg sendiri memang semakin populer dalam beberapa tahun terakhir, khususnya di kalangan anak muda. Dengan menggunakan speaker berdaya besar dan kendaraan modifikasi, mereka menciptakan suasana meriah yang berbeda dari takbiran tradisional. Namun, di balik kemeriahan tersebut, muncul kekhawatiran terkait ketertiban umum, keselamatan, serta potensi pelanggaran hukum.
Pakar sosial menilai bahwa kejadian ini mencerminkan perlunya pengaturan yang lebih jelas dalam pelaksanaan pawai takbiran, terutama yang melibatkan kendaraan besar dan sound system ekstrem. Tanpa regulasi yang tegas, dikhawatirkan kejadian serupa akan terus terulang bahkan dengan risiko yang lebih besar.
Pihak berwenang diharapkan dapat mengambil langkah cepat, baik dalam bentuk evaluasi maupun penegakan aturan, agar tradisi takbiran tetap berjalan dengan aman dan tertib. Di sisi lain, masyarakat juga diimbau untuk merayakan momen keagamaan dengan cara yang lebih bijak tanpa merusak fasilitas umum.
Kejadian ini menjadi pengingat bahwa euforia perayaan tidak seharusnya mengorbankan kepentingan bersama. Tradisi tetap bisa dilestarikan, namun harus selaras dengan tanggung jawab sosial dan aturan yang berlaku.
