
WFH Sehari Sepekan Dikaji, Akademisi dan DPR Minta Pemerintah Hati-hati
Pemerintah tengah mengkaji wacana penerapan kebijakan work from home (WFH) selama satu hari dalam sepekan bagi aparatur sipil negara (ASN). Kebijakan ini disebut-sebut sebagai bagian dari upaya meningkatkan efisiensi kerja, mengurangi kemacetan, serta menekan polusi di wilayah perkotaan. Namun, sejumlah akademisi dan anggota DPR RI mengingatkan agar kebijakan ini tidak diterapkan secara tergesa-gesa.
Kalangan akademisi menilai bahwa efektivitas WFH sangat bergantung pada kesiapan infrastruktur digital dan budaya kerja di masing-masing instansi. Tanpa dukungan sistem yang memadai, WFH justru berpotensi menurunkan produktivitas. Selain itu, tidak semua jenis pekerjaan di sektor pemerintahan dapat dilakukan secara jarak jauh.
“Perlu ada kajian komprehensif berbasis data sebelum kebijakan ini diimplementasikan secara luas. Jangan sampai niat baik malah menimbulkan persoalan baru,” ujar seorang pakar kebijakan publik.
Sementara itu, anggota DPR RI juga meminta pemerintah untuk berhati-hati dalam merumuskan kebijakan tersebut. Mereka menekankan pentingnya uji coba terbatas serta evaluasi berkala untuk memastikan dampak kebijakan benar-benar positif, baik bagi kinerja ASN maupun pelayanan publik.
Beberapa anggota dewan bahkan menyoroti potensi ketimpangan antar daerah. Di wilayah dengan akses internet yang masih terbatas, penerapan WFH bisa menjadi hambatan serius. Oleh karena itu, kebijakan ini dinilai perlu disesuaikan dengan kondisi masing-masing daerah, bukan diterapkan secara seragam.
Di sisi lain, ada pula dukungan terhadap wacana ini, terutama dari perspektif lingkungan dan keseimbangan kerja-hidup (work-life balance). Dengan satu hari WFH, diharapkan mobilitas masyarakat berkurang sehingga dapat menekan emisi karbon serta memberikan fleksibilitas bagi pekerja.
Pemerintah sendiri menyatakan bahwa kajian masih berlangsung dan berbagai masukan dari pemangku kepentingan akan menjadi pertimbangan utama. Kebijakan ini, jika diterapkan, diharapkan mampu menjadi solusi inovatif tanpa mengorbankan kualitas pelayanan kepada masyarakat.
Dengan berbagai pro dan kontra yang muncul, kehati-hatian menjadi kunci. WFH sehari sepekan bukan sekadar perubahan teknis, melainkan transformasi budaya kerja yang membutuhkan kesiapan matang dari seluruh pihak terkait.
